Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang
sejati. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut "Nansarunai Usak
Jawa", yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh
Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin
Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar,
sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat
pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang
Melayu (sekitar tahun 1608).
Ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang
masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman
dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini
merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia
1. Upacara Tiwah
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.
Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.
Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).
2. Mangkok Merah
Mangkok merah merupakan media persatuan Suku
Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam
bahaya besar. Panglima" atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya
mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan
dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak
orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya
saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak
panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru,
senjata tajam dan sebagainya.
Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber Tariu" ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber Tariu" ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
3. Mandau
Mandau adalah salah satu senjata suku Dayak yang
merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat atau
memiliki kesaiktian.Selain itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan
menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian besar
kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan
diikatkan pada pinggang mereka. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang
ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing
(menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Konon, mandau yang
paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus
sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas,
perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang
tertentu.
Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa
yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan
berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung
gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia.
Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau
dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.
Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari
lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian
tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai
hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik
dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan
sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan
tali pinggang dari anyaman rotan.
4. Telinga panjang
5. Tato
Bagi suku Dayak, tato dipercaya akan bercahaya setelah si empunya meninggal. Ini akan membuat para leluhur mengenali arwah dan membawanya ke surga. Karena itu, semakin banyak tato, “obor” akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di
Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering
mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya
tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.Di Kalimantan,
jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer, dan harus ditempuh
menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan,jadi seorang
pengembara diberikan penghargaan dengan sebuah tatto. Bisa pula tato diberikan
kepada para bangsawan
Bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunannya
ditato dengan motif “dunia atas” atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain
motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih
halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah Bagi suku Dayak yang
bermukim di perbatasan Kalimantan dan Sarawak Malaysia, misalnya, tato di
sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti
ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu
semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar