Berkat sebuah teknologi baru, pasien
penderita Locked-in syndrome bisa menggerakkan kursi
roda atau berselancar di internet hanya dengan bernafas.
Locked-in syndrome atau biasa disebut dengan LIS adalah keadaan dimana tubuh kita kehilangan seluruh sensitivitasnya. penderita LIS bisa bernafas dan sadar namun tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar karena luka di otak telah membuat fungsi organ tubuhnya rusak dan terkunci.
Ilmuwan dari Weizmann Institute of
Science di Rehovot, Israel, kemudian menciptakan teknologi pendeteksi nafas.
Perangkat ini dapat mendeteksi perubahan tekanan udara yang terjadi di rongga
nafas si pemakai dan mengubahnya kedalam bentuk sinyal elektrik. Perangkat yang
diciptakan Noam Sobel dan timnya ini kemudian dipasangkan pada software khusus
dan digunakan untuk menggerakkan kursor di layar komputer atau menggerakkan
kursi roda."Nafas merupakan penggerak yang sangat baik dan cepat,"
kata Sobel seraya menyebutkan, perangkat yang diciptakannya tengah diuji coba
pada tiga orang pasien penderita locked-in syndrome.
Salah satu pasien wanita berusia 51
tahun, memerlukan waktu 19 hari mempelajari cara menggunakan perangkat
tersebut. Hasilnya, dia bisa menulis email pada keluarganya untuk
pertamakalinya. Kesuksesan juga terjadi pada sua pasien lainnya, mereka yang
menderita locked-in syndrome selama hampir 18 tahun bisa menggerakkan kursi
roda dan menggunakan internet.
Sampai saat ini, Sobel dan timnya
masih mengembangkan teknologi ini. Para penderita tuna daksa di seluruh dunia
mengharapkan alat tersebut segera diproduksi ke seluruh dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar